Sebanyak 35 Siswa Gagal Lolos Jalur Domisili, Ini Statemen Kepala Sekolah SMKN 1 Puhpelem “Choirul Hidayah”

Foto : Sebanyak 35 Siswa Gagal Lolos Jalur Domisili, Ini Statemen Kepala Sekolah SMKN 1 Puhpelem, Selasa (23/6/2026). 

WONOGIRI I jktv.co.id – Sebanyak 35 calon peserta didik baru di nyatakan tidak berhasil diterima melalui jalur domisili di SMKN 1 Puhpelem, Kabupaten Wonogiri. Kasus ini kembali menyoroti persoalan klasik dalam penerimaan murid baru di daerah. tingginya minat masyarakat tidak sebanding dengan regulasi dan aturan yang ada.

Pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026, jumlah pendaftar di SMKN 1 Puhpelem mencapai sekitar 450 calon siswa. Namun, sekolah hanya dapat menampung 252 siswa sesuai kuota yang telah ditetapkan. Selisih yang cukup besar ini membuat puluhan pendaftar, termasuk yang berdomisili dekat sekolah, harus tersingkirkan dari jalur yang semestinya memberi prioritas bagi warga sekitar.

Kepala SMKN 1 Puhpelem, Choirul Hidayah, S.Ag., menegaskan bahwa pihak sekolah tidak memiliki kewenangan untuk menambah kuota di luar ketentuan yang berlaku. Menurutnya, sekolah hanya menjalankan aturan dan mekanisme penerimaan yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Sekolah hanya melaksanakan aturan yang sudah ditetapkan dalam sistem penerimaan. Kami mengacu pada mekanisme, regulasi, aturan dan kuota yang berlaku,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan SPMB, terdapat tiga jalur penerimaan yang digunakan, yakni jalur domisili, jalur afirmasi dan jalur prestasi. Jalur domisili diperuntukkan bagi calon siswa yang bertempat tinggal dekat dengan sekolah dengan kuota sebesar 10 persen. sedangkan jalur afirmasi diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu yang terdaftar dalam DTKS atau penerima KIP.

Akibat keterbatasan kuota tersebut, sebanyak 35 calon siswa yang tidak lolos melalui jalur domisili akhirnya di alihkan dan pendaftaran ke SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro melalui bantuan anggota DPRD Kabupaten Wonogiri.

Di sisi lain, persoalan ini memunculkan pertanyaan dikalangan masyarakat terkait regulasi dan aturan kuota yang kurang di Terima di kalangan masyarakat luas, khususnya di wilayah sekitar di sekolah SMKN 1 Pohpelem. Padahal, SMKN 1 Puhpelem saat ini memiliki 21 ruang kelas dan didukung sekitar 50 tenaga pendidik.

Tingginya animo masyarakat menunjukkan bahwa SMKN 1 Puhpelem masih menjadi pilihan utama bagi lulusan SMP di kawasan selatan Kabupaten Wonogiri. Namun keterbatasan kuota dan aturan yang ada membuat sebagian calon siswa harus mencari alternatif sekolah lain dan menyatakan kecewa.

Pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah diharapkan dapat mengevaluasi kebutuhan daya tampung sekolah kejuruan negeri di wilayah tersebut. Sebab, meningkatnya jumlah pendaftar setiap tahun menjadi indikator bahwa akses pendidikan kejuruan masih sangat dibutuhkan masyarakat.

Persoalan ini bukan semata tentang 35 siswa yang gagal diterima, melainkan tentang bagaimana negara memastikan akses pendidikan yang merata bagi seluruh anak di daerah, khususnya di wilayah pinggiran yang memiliki pilihan sekolah negeri yang terbatas.

  • Reporter : Timsus-JKTV. 
JK TV Copyright