Merdeka RUN 2026 Disorot, PASI Ponorogo Tegaskan Event Lari Harus Berpihak pada Pembinaan Atlet

Foto : Merdeka RUN 2026 Disorot, PASI Ponorogo Tegaskan Event Lari Harus Berpihak pada Pembinaan Atlet, Senin (31/8/2026).

PONOROGO I jktv.co.id – Persoalan penyelenggaraan Merdeka RUN Ponorogo 2026 tidak hanya menyangkut teknis perlombaan. Bagi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Ponorogo, yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap event lari di daerah mampu menjadi bagian dari pembinaan dan pengembangan prestasi atlet atletik lokal.

Ketua Harian PASI Kabupaten Ponorogo, Sukat, menyayangkan pelaksanaan Merdeka RUN 2026 yang dinilainya minim koordinasi dengan induk organisasi atletik. Padahal, menurutnya, penyelenggaraan event lari semestinya tidak berhenti pada aspek hiburan dan jumlah peserta, tetapi juga harus memiliki kontribusi nyata terhadap pembinaan atlet.

Sukat membandingkan pelaksanaan tahun 2025 yang dinilai berjalan lancar dan sukses. Ia menilai, pada event olahraga yang melibatkan cabang atletik, keberadaan PASI seharusnya tidak sekadar menerima surat pemberitahuan, melainkan dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga aspek teknis perlombaan.

“Acara semacam ini sifatnya lebih ke rekreasi. Kalau standar resmi atletik itu ada aturan teknisnya yang terukur dan mengacu pada aturan PASI hingga tingkat nasional. Pihak penyelenggara tidak pernah melibatkan teknis kepanitiaan maupun petugas dari PASI,” ujar Sukat saat dikonfirmasi, Senin (31/8/2026).

Menurut Sukat, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius karena event lari yang digelar di daerah berpotensi menjadi ruang pencarian bibit atlet. Jika penyelenggaraan tidak memiliki standar teknis yang jelas, kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi atlet lokal juga bisa terabaikan.

“Jangan sampai event lari hanya menjadi kegiatan sesaat. Setelah acara selesai, tidak ada dampak terhadap pembinaan atlet. Padahal, dari event seperti inilah seharusnya bisa muncul bibit-bibit atlet Ponorogo yang kemudian dibina untuk berprestasi,” tegasnya.

Ia menyebut, kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. PASI Ponorogo mencatat sedikitnya tiga event lari di wilayah Ponorogo yang dinilai belum melakukan koordinasi teknis secara optimal dengan induk organisasi atletik, mulai dari event lari di Alun-Alun Ponorogo, Ngebel, hingga Merdeka RUN di Sampung.

Bagi PASI, kondisi tersebut tidak boleh terus berulang. Event olahraga yang menggunakan konsep lomba lari semestinya memiliki standar yang jelas, terlebih ketika peserta yang ikut bukan hanya masyarakat umum, tetapi juga atlet atau pelari yang menjadikan ajang tersebut sebagai bagian dari perjalanan prestasinya.

Sukat juga menyoroti sejumlah regulasi perlombaan yang dibuat panitia, termasuk kewajiban peserta membawa perlengkapan tertentu serta persoalan penentuan pemenang yang sempat memunculkan protes dari beberapa peserta.

Menurutnya, aturan dalam sebuah perlombaan harus disusun secara terukur, transparan, dan dapat di pertanggung jawabkan, sehingga tidak menimbulkan polemik maupun merugikan peserta.

PASI Ponorogo menegaskan, kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk menghambat penyelenggaraan event lari. Sebaliknya, PASI ingin memastikan setiap kegiatan olahraga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi perkembangan atletik Ponorogo.

“PASI tidak ingin mematikan event. Justru kami ingin event-event seperti ini semakin baik dan menjadi bagian dari pembinaan. Kalau koordinasinya bagus, standar teknisnya jelas, atlet lokal bisa mendapatkan ruang untuk berkembang,” jelas Sukat.

Ia berharap pemerintah daerah, KONI, panitia penyelenggara, serta seluruh pihak yang berkepentingan dapat duduk bersama membangun pola penyelenggaraan event lari yang lebih profesional.

PASI Ponorogo pun berencana melakukan koordinasi dan evaluasi bersama KONI serta instansi terkait. Langkah tersebut diharapkan menjadi momentum untuk membenahi penyelenggaraan event atletik di Ponorogo agar ke depan tidak sekadar mengejar kemeriahan, tetapi juga melahirkan, menemukan, dan membina atlet-atlet potensial daerah.

Sebab, menurut PASI, ukuran keberhasilan sebuah event olahraga bukan hanya berapa banyak peserta yang hadir atau seberapa meriah acara berlangsung. Jauh lebih penting adalah apa yang ditinggalkan setelah event selesai: apakah ada bibit atlet yang ditemukan, prestasi yang tumbuh, dan pembinaan yang berkelanjutan.

  • Reporter : Timsus. 
JK TV Copyright