GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Tegaskan Ringgit Purwo Bukan Sekadar Tontonan, Melainkan Penjaga Peradaban Jawa

Foto : GKR Panembahan Timoer Rumbai Secara Langsung Serahkan Tokoh Wayang Kepada Ki Dalang, Rabu (15/7/2026). 

SURAKARTA I jktv.co.id – Pagelaran Ringgit Purwo (Wayang Kulit) menjadi puncak rangkaian acara Tutup Suro Mangayubagyo Warsa Anyar 1 Suro Be 1960/2026 yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tradisi yang telah mengakar kuat dalam budaya Jawa ini kembali diteguhkan sebagai sarana pelestarian nilai-nilai adiluhung, sekaligus menjadi media pendidikan karakter bagi masyarakat.

Prosesi pembukaan berlangsung khidmat ketika Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani menyerahkan tokoh wayang kepada Ki Dalang sebagai simbol dimulainya pagelaran Ringgit Purwo. Penyerahan tokoh wayang tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan mengandung makna mendalam bahwa wayang merupakan pusaka budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani merupakan putri sulung Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana XIII, dan saat ini mengemban amanah sebagai Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dalam kapasitasnya sebagai salah satu pemangku adat Keraton, beliau terus menunjukkan komitmen dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan tradisi budaya Jawa agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma menegaskan bahwa pelestaian adat-istiadat Ringgit Purwo ini Bukan Sekadar Tontonan, Melainkan Penjaga Peradaban Jawa, terutama melestarikan budaya leluhur. Pagelaran Ringgit Purwo tahun 2026 ini, menjadi rangkaian penutup 1 Suro dari semua rangkaian kegiatan yang digelar Karaton Kasunanan Surakarta tahun 2026.

“Kegiatan ini rutin di gelar setiap tahunnya. Selain melestarikan budaya Jawa dan adat-istiadat Karaton Surakarta, ini juga bukti setia kita kepada para leluhur untuk terus mengembangkan dan melestarikan budaya yang ada,”tegasnya, Rabu 15/7/2026).

Pagelaran Ringgit Purwo yang digelar dalam momentum pergantian Tahun Baru Jawa memiliki makna spiritual dan filosofis yang sangat kuat. Bagi masyarakat Jawa, wayang bukan hanya seni pertunjukan, melainkan media penyampaian ajaran moral, etika dan kepemimpinan, serta nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur.

Setiap lakon yang dimainkan mengandung pesan tentang perjuangan menegakkan kebenaran, kejujuran, pengabdian, serta keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai-nilai tersebut menjadi pondasi kehidupan masyarakat Jawa yang hingga kini masih dijaga oleh Keraton Kasunanan Surakarta sebagai pusat kebudayaan.

Ringgit Purwo juga menjadi bukti bahwa kebudayaan Jawa tidak pernah berhenti berkembang. Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, pertunjukan wayang tetap memiliki tempat istimewa sebagai identitas budaya bangsa. Keraton Surakarta terus berupaya menjaga eksistensi warisan budaya ini melalui berbagai kegiatan adat, salah satunya pagelaran wayang pada malam Tutup Suro.

Momentum Tutup Suro sendiri merupakan refleksi perjalanan kehidupan. Pergantian tahun dalam penanggalan Jawa dimaknai sebagai waktu untuk melakukan introspeksi, membersihkan diri dari segala keburukan, serta menata niat dan langkah menuju kehidupan yang lebih baik pada tahun yang baru.

Melalui pagelaran Ringgit Purwo, Keraton Kasunanan Surakarta menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga benda-benda pusaka, tetapi juga menghidupkan nilai, filosofi, dan ajaran luhur yang terkandung di dalamnya. Wayang menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan sejarah masa lalu dengan tantangan masa kini, sekaligus memperkuat jati diri bangsa Indonesia yang berakar pada kekayaan budaya Nusantara.

Pagelaran yang berlangsung penuh khidmat tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat dan para pecinta budaya. Kehadiran GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dalam membuka pertunjukan menjadi simbol kuat bahwa Keraton Kasunanan Surakarta tetap konsisten menjalankan perannya sebagai penjaga tradisi, pusat pelestarian budaya Jawa, serta sumber inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan warisan leluhur.

  • Reporter : Arifin
  • Editor : KRA. Anang Sastro. 
JK TV Copyright