Kembangkan Potensi Desa : Budidaya Waluh (labu) Suprema F1 Jadi Langkah Awal Pemberdayaan KPM PKH Tumpuk

Foto : Kembangkan Potensi Desa : Budidaya Waluh (labu) Suprema F1 Jadi Langkah Awal Pemberdayaan KPM PKH Tumpuk. 

PACITAN | jktv.co.id – Di tengah kesibukan yang padat dalam melakukan survei data ground check untuk Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Tumpuk Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan Jawa Timur tetap menunjukkan komitmen tinggi dalam menjalankan tugas pemberdayaan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Salah satu inisiatif yang sedang berjalan adalah program budidaya waluh (labu) Suprema F1, yang diharapkan dapat menjadi model usaha berkelanjutan bagi KPM PKH.

Anastya Ivan, Pendamping Desa Tumpuk, menjelaskan bahwa program pemberdayaan pertanian ini merupakan respons terhadap arahan Menteri Sosial Republik Indonesia yang menekankan pentingnya pemberdayaan KPM PKH melalui usaha.

“Setelah melakukan analisis mendalam selama satu tahun terhadap potensi desa, sektor pertanian diidentifikasi sebagai pilihan usaha yang paling realistis untuk dikembangkan oleh keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan(PKH), saat ditemui awak media, Sabtu (22/3/2025).

Anastya Ivan mengungkapkan, di tengah padatnya jadwal survei data ground check DTSEN, para pendamping tetap meluangkan waktu untuk mendampingi dan memberdayakan keluarga penerima manfaat(KPM) program keluarga harapan (PKH) melalui berbagai program, salah satunya adalah budidaya waluh (labu) Suprema F1. Hal ini menunjukkan dedikasi tinggi para pendamping PKH Kecamatan Bandar dalam memastikan kesejahteraan masyarakat penerima manfaat.

Program budidaya waluh (labu) Suprema F1 ini dirancang dengan pendekatan bertahap. Untuk Jangka Pendek (1-4 bulan), kami fokus pada penanaman sayur dan buah-buahan yang cepat panen. Kemudian, untuk Jangka Menengah, kami akan mengembangkan tanaman buah-buahan seperti pepaya dan jambu kristal. Sedangkan untuk Jangka Panjang, kami merencanakan penanaman tanaman buah musiman bernilai tinggi seperti alpukat, durian, dan mangga,” paparnya .

Inisiatif jangka pendek ini dimulai sejak Desember 2024 dengan sosialisasi dan penanaman bibit waluh (labu) Suprema F1. Pemilihan varietas ini didasarkan pada beberapa faktor penting. Potensi pasar survei pasar menunjukkan tingginya permintaan terhadap waluh (labu) jenis Suprema F1 dengan harga yang menarik, yaitu sekitar Rp. 1.500 per kilogram.

”Budidaya keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH) telah memiliki pengalaman dalam menanam waluh (labu) lokal. Varietas suprema F1 sendiri relatif mudah untuk ditanam dan dirawat, serta tidak memerlukan lahan yang luas.

Modal terjangkau budiaya bibit waluh (labu) sangat terjangkau, hanya Rp. 500 per biji. Dengan menanam minimal 10 biji, modal awal yang dibutuhkan hanya Rp. 5.000.
Waktu Panen yang Tepat waluh (labu) suprema F1 memiliki siklus pertumbuhan yang relatif singkat, yaitu sekitar 4 bulan sejak penanaman yang dimulai pada Desember 2024. Panen diharapkan terjadi pada bulan Maret, bertepatan dengan bulan Ramadhan di mana permintaan waluh (labu) biasanya meningkat.

”Potensi hasil tinggi setiap buah waluh (labu) diperkirakan memiliki berat antara 2,5 kg hingga 6 kg, yang memberikan potensi pendapatan yang signifikan bagi keluarga penerima manfaat (KPM). Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang luas bagi keluarga penerima manfaat (KPM ) program keluarga harapan PKH.

Inklusivitas usaha pertanian ini dirancang agar dapat diikuti oleh semua KPM, tanpa memandang batasan usia atau kondisi fisik.
Pendapatan dengan engan modal yang relatif kecil dan waktu panen yang singkat, keluarga penerima manfaat (KPM) diharapkan dapat memperoleh keuntungan yang signifikan. Pendamping PKH berharap program ini dapat membantu KPM mengoptimalkan lahan yang kurang produktif menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan, ”imbuhnya.

Pengembangan Usaha Berkelanjutan: Hasil panen waluh (labu) diharapkan menjadi modal awal untuk mengembangkan usaha yang lebih terstruktur. Sebagian keuntungan akan digunakan untuk penanaman waluh (labu) berikutnya, dan sebagian lagi akan dialokasikan untuk investasi jangka menengah, yaitu pembelian bibit jambu kristal.

“Program penanaman waluh (labu) jangka pendek ini bukan hanya sekadar kegiatan pertanian biasa, melainkan kami sebut sebagai ‘Tabungan Ramadhan’ bagi keluarga penerima manfaat (KPM ) program keluarga harapan (PKH). Ini adalah langkah awal yang strategis untuk membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan keluarga, sekaligus menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan yang berkelanjutan,” tegasnya.

”Lebih lanjut, Anastya Ivan menambahkan bahwa usaha ini juga dijadikan sebagai pilot project pemberdayaan yang akan dikembangkan secara bertahap di Desa-Desa lain di Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan. Hal ini menunjukkan komitmen untuk memperluas dampak positif program ini bagi lebih banyak keluarga penerima manfaat di wilayah tersebut.

Definisi Ground Check, Ground check adalah proses verifikasi dan validasi data di lapangan secara langsung. Dalam konteks DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional), ground check dilakukan untuk memastikan keakuratan informasi yang telah dikumpulkan melalui survei atau pendataan, dengan cara membandingkannya dengan kondisi riil di lapangan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan kesalahan data dan memastikan data yang digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan dan program bantuan sosial adalah data yang valid dan terpercaya, ”tandasnya.

  • Reporter: Hargo. 
JK TV Copyright