Pupus Harapan Suporter Persinga, Laskar Ketonggo Terpaksa Jadi Tim Musafir di Liga 3 Nusantara

Foto : Pupus Harapan Suporter Persinga, Laskar Ketonggo Terpaksa Jadi Tim Musafir di Liga 3 Nusantara, Minggu (25/10/2026). 

NGAWI – Kekecewaan menyelimuti pecinta sepak bola di Kabupaten Ngawi. Setelah Persinga Ngawi berhasil berjuang naik kasta ke Liga 3 Nusantara, harapan masyarakat untuk menyaksikan langsung perjuangan Laskar Ketonggo di Stadion Ketonggo, Ngawi, justru harus tertunda.

Alih-alih bisa memberikan dukungan langsung kepada tim kebanggaannya di kandang sendiri, suporter Persinga harus bersiap menempuh perjalanan jauh ke luar daerah. Persinga dipastikan menjadi tim musafir pada kompetisi Liga 3 Nusantara musim 2026/2027 lantaran Stadion Ketonggo belum memenuhi standar untuk menggelar pertandingan kompetisi tersebut.

Kondisi ini tentu menjadi pukulan bagi masyarakat Ngawi. Perjuangan Persinga untuk naik kasta semestinya menjadi momentum kebangkitan sepak bola daerah sekaligus menghadirkan kebanggaan bagi warga. Namun, keterbatasan fasilitas stadion membuat kesempatan menyaksikan tim kesayangan berlaga di hadapan publik sendiri belum bisa terwujud.

Belum tersedianya lampu stadion serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya menjadi kendala utama. Padahal, keberadaan stadion yang memenuhi standar kompetisi bukan hanya kebutuhan tim, melainkan juga menjadi bagian penting dari hubungan emosional antara klub dan suporternya.

Manajemen Akui Waktu Pemasangan Lampu Tidak Cukup. 

Manajer Persinga Ngawi, Andri Budi Setyawan, yang akrab disapa Andri Bolang, saat dihubungi via telepon pada, Minggu (25/10/2026 ), mengungkapkan bahwa manajemen sebenarnya telah berupaya agar Persinga tetap bisa berkandang di Stadion Ketonggo.

Menurutnya, rencana pengadaan lampu stadion sempat menjadi salah satu opsi untuk memenuhi kebutuhan pertandingan. Namun, keterbatasan waktu pengerjaan membuat rencana tersebut sulit direalisasikan sebelum kompetisi bergulir.

“Kelihatannya Pak CEO, anggaran ada, mungkin atau uangnya pribadi atau apa, kita tidak tahu. Tetapi setelah koordinasi dengan Pak Wabup, waktunya tidak cukup. Rp4 miliar itu kurang lebih, kalau tidak salah, sekitar Rp3 sampai Rp4 miliar. Tapi waktu pekerjaannya kurang lebih tiga bulan, jadi tidak ketemu tentang pekerjaannya,” jelas Andri Bolang saat dikonfirmasi melalui telepon.

Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti pemerintah daerah maupun pihak terkait melupakan kebutuhan Persinga. Hanya saja, waktu yang tersedia dinilai tidak mencukupi untuk membangun empat titik lampu stadion.

“Alhasil, bukannya dari Pak CEO atau Pak Wabup melupakan, tetapi waktunya yang tidak mencukupi untuk pembuatan empat titik lampu stadion,” imbuhnya.

Gagal Bermarkas di Madiun, Persinga Pilih Stadion Jenggolo. 

Demi tetap bisa mengikuti kompetisi, manajemen Persinga kemudian berupaya mencari stadion alternatif yang memenuhi standar dan memungkinkan untuk digunakan sebagai markas sementara.

Stadion Wilis di Kota Madiun sempat menjadi pilihan karena lokasinya relatif lebih dekat dengan Ngawi. Namun, rencana tersebut belum mendapat izin dari pemerintah daerah setempat.

“Home base kemarin di Madiun, tetapi yang terbaru kelihatannya dari pemerintah daerahnya belum mengizinkan. Kemudian nanti kita pindah ke Stadion Jenggolo, situ saja,” ungkapnya.

Dengan demikian, Stadion Jenggolo di Kabupaten Sidoarjo menjadi pilihan markas Persinga Ngawi untuk mengarungi Liga 3 Nusantara musim 2026/2027.

Keputusan ini menjadi konsekuensi yang harus diterima Laskar Ketonggo. Di satu sisi, tim harus tetap fokus menjalani kompetisi dan menjaga prestasi. Di sisi lain, dukungan langsung dari suporter di stadion sendiri berpotensi berkurang karena jarak yang harus ditempuh untuk menyaksikan pertandingan.

Bagi pecinta sepak bola Ngawi, persoalan ini bukan sekadar perpindahan lokasi pertandingan. Ada kebanggaan daerah, dukungan suporter, hingga harapan melihat tim kebanggaan berlaga di rumah sendiri yang ikut dipertaruhkan.

Revitalisasi Stadion Ketonggo Baru Dianggarkan 2027.

Sementara itu, Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, menyampaikan bahwa revitalisasi Stadion Ketonggo direncanakan mulai dikerjakan pada 2027 dengan anggaran sekitar Rp20 miliar.

Rencana tersebut mencakup pembenahan sejumlah fasilitas agar stadion kebanggaan masyarakat Ngawi itu dapat memenuhi standar untuk menggelar pertandingan sepak bola, termasuk kompetisi tingkat nasional.

“Juknisnya, anggaran turun untuk perbaikan stadion di tahun 2027. Normatif sudah dianggarkan pada 2027 untuk revitalisasi Stadion Ketonggo senilai kurang lebih Rp20 miliar,” terang Ony.

Ia menjelaskan, anggaran tersebut direncanakan untuk penambahan dan perubahan tribun, pembangunan lampu stadion, penyediaan tempat parkir, serta pembenahan fasilitas pendukung lainnya.

“Intinya biar ini standar, standar untuk menjadi tuan rumah,” imbuhnya.

Rencana revitalisasi tersebut tentu menjadi angin segar bagi masa depan sepak bola Ngawi. Namun, bagi suporter Persinga, perbaikan yang baru direncanakan pada 2027 terasa terlambat untuk menjawab kebutuhan kompetisi musim ini.

Keberhasilan Persinga menembus Liga 3 Nusantara seharusnya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali merasakan atmosfer pertandingan sepak bola di Stadion Ketonggo. Sorak-sorai suporter, kebanggaan mengenakan atribut klub, hingga kebersamaan warga saat mendukung Laskar Ketonggo merupakan bagian dari pengalaman yang tak tergantikan.

Namun, untuk sementara waktu, semua itu harus tertahan. Persinga akan berjuang di stadion yang jauh dari rumahnya, sementara masyarakat Ngawi hanya bisa berharap tim kesayangannya tetap tampil maksimal di tengah keterbatasan.

Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa prestasi sebuah klub perlu diimbangi kesiapan infrastruktur daerah. Ketika tim berhasil naik kasta, stadion yang layak semestinya menjadi salah satu prioritas agar pencapaian tersebut bisa dinikmati bersama oleh masyarakat.

Kini, Persinga harus melanjutkan perjuangannya dari Sidoarjo. Sementara itu, pecinta sepak bola Ngawi masih harus menunggu hingga Stadion Ketonggo benar-benar siap menjadi tuan rumah.

Bagi Laskar Ketonggo, bermain di luar daerah mungkin menjadi jalan yang harus ditempuh demi menjaga asa di kompetisi nasional. Namun, bagi suporternya, ada satu harapan sederhana yang belum terwujud: melihat Persinga berlaga, berjuang, dan meraih kemenangan di rumah sendiri, di Stadion Ketonggo, di hadapan masyarakat Ngawi yang selama ini setia mendukungnya.

  • Reporter : Esa.
JK TV Copyright