Membaur Tanpa Sekat, Mahasiswa KPM Kelompok 12 Jadikan Masyarakat sebagai Mitra dan Sumber Pembelajaran

Paringan, Jenangan | Jktv.co.id — Kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) bukan sekadar agenda rutin akademik, melainkan sarana pertukaran nilai dan pembelajaran dua arah antara mahasiswa dan masyarakat. Hal inilah yang tercermin dalam pelaksanaan program KPM oleh Kelompok 12 di Dukuh Krajan, Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo.

Mengacu pada konsep tri pusat pendidikan,keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kelompok 12 menempatkan masyarakat bukan sebagai objek intervensi, melainkan sebagai mitra sejajar dan sumber pembelajaran yang autentik. Mahasiswa tidak datang untuk menggurui, tetapi hadir dengan semangat untuk belajar secara aktif dari kehidupan warga setempat.

“Sejak awal, kami menegaskan bahwa keberadaan kami di tengah masyarakat bukan sebagai kelompok eksklusif, melainkan sebagai bagian dari lingkungan sosial yang sama. Kami berupaya menjalin relasi yang setara dan saling belajar,” ungkap salah satu anggota kelompok.

Integrasi Sosial dan Kultural

Sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip pembauran, mahasiswa aktif mengikuti berbagai kegiatan warga, baik yang bersifat formal seperti rapat RT dan kerja bakti, maupun kegiatan non-formal seperti tahlilan, rutinan ibu-ibu, serta aktivitas gotong royong lainnya. Dalam setiap kegiatan, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta pasif, melainkan turut berkontribusi dan terlibat secara aktif.

Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan rutinan ibu-ibu, misalnya, menjadi ruang belajar sosial dan spiritual yang berharga. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memahami bagaimana peran perempuan dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan, religiusitas, serta harmoni sosial di tingkat lokal.

Menggali Potensi Ekonomi Lokal

Selain keterlibatan sosial, Kelompok 12 juga menjadikan sektor ekonomi sebagai objek pembelajaran. Salah satu fokus utama mereka adalah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Tape Madu, produk khas Desa Paringan yang telah dikenal hingga pasar internasional.

Melalui pendekatan observatif dan partisipatif, mahasiswa mempelajari strategi produksi, pemasaran, dan pengembangan usaha dari para pelaku UMKM. Proses ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai potensi ekonomi desa dan tantangan dalam membangun usaha berbasis kearifan lokal.

Pembelajaran Administratif dan Pemerintahan Desa

Sebagai bagian dari proses pengenalan sistem sosial dan kelembagaan di tingkat desa, mahasiswa juga berkesempatan mempelajari manajemen administrasi desa, mulai dari pengarsipan, pengelolaan data kependudukan, hingga sistem perencanaan pembangunan berbasis musyawarah.

Kegiatan ini menjadi pengalaman kontekstual yang mendukung pemahaman mahasiswa mengenai tata kelola pemerintahan di tingkat akar rumput, serta menjadi bagian penting dalam dokumentasi dan refleksi pelaksanaan KPM.

KPM sebagai Proses Humanisasi

Kegiatan KPM oleh Kelompok 12 menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar bentuk kontribusi satu arah, melainkan proses humanisasi yang saling memperkaya antara mahasiswa dan masyarakat. Melalui pendekatan yang inklusif, partisipatif, dan berbasis penghormatan terhadap nilai-nilai lokal, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan pengetahuan, tetapi juga memperluas horizon pemikiran dan kepekaan sosial.

“Kami tidak hanya berbagi, tetapi juga banyak belajar dari masyarakat. Baik dalam hal kedisiplinan, solidaritas, maupun kearifan dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Ini menjadi bekal penting saat kami kembali ke lingkungan akademik maupun masyarakat luas di masa depan,” ujar salah satu anggota kelompok.

Dengan demikian, KPM tidak hanya menjadi kegiatan pengabdian, tetapi juga proses pembelajaran transformatif yang menempatkan masyarakat sebagai guru, dan mahasiswa sebagai pembelajar yang rendah hati dan terbuka.

  • Reporter : Minul Anggraeni
JK TV Copyright