BOJONEGORO | JKTV. co.id – Di persimpangan sunyi rel kereta api,
di mana besi bertemu doa dan nasib tak sempat meminta izin, kata “komo-komo” melintas lebih bising daripada deru kereta.
Ia melukai bukan karena maknanya,
melainkan karena ia datang di saat duka masih basah,
Kata yang di sampaikan Yusuf di saat air mata belum sempat mengering dari pipi keluarga korban. Santunan bukan harga bagi nyawa. Ia bukan tebusan, bukan pula pengganti kehilangan.
Ia hanya bahasa kecil dari kepedulian,
tanda bahwa manusia masih ingin saling menopang ketika dunia runtuh sejenak.
Maka menyebutnya “komo-komo”
seakan mengecilkan niat baik,
seakan memiskinkan empati,
dan tanpa sadar mengasingkan rasa kemanusiaan dari ruang publik.
Jika kelak ada yang bertanya tentang tanggung jawab, biarlah hukum dan tata kelola menjawabnya dengan jernih.
Siapa membangun palang pintu, siapa menjaga lintasan, itu ranah kebijakan, bukan ladang untuk saling menyalahkan di tengah duka.
Yang lebih penting hari ini adalah ini:
menjaga kata agar tak melukai, menjaga bahasa agar tak menambah luka,
menjaga hati agar tak kehilangan empati.
Karena di negeri yang kerap gaduh oleh opini, barangkali yang paling kita butuhkan bukan siapa paling benar, melainkan siapa yang paling manusiawi.
Sementara itu Raden Tumenggung Lulus Pradono Adiprojo SH, Selaku Ketua Budaya Kusuma Nusantara (BKN) sekaligus kordinator Rejo Semut Ireng sangat menyayangkan ucapan salah satu pejabat KAI yang harusnya mendinginkan suasana malah memancing emosi beberapa pihak dan, yang lebih menyakitkan tentu terhadap keluarga yang berduka termasuk rekan seprofesi masa “mau memberi santunan aja pakai bahasa komo2. Kata Lulus saat ditemui awak media ini.
“Menambahkan Lulus seorang pejabat mestinya bisa memberi contoh etika maupun kata – kata terhadap masyarakat tentunya hal tersebut bisa membawa kewibawaan dalam pelayanan di saat bertugas’ pungkas Ketua BKN.
- Reporter : Aji













