Suwung Jumengglung : Pameran Seni yang Menghidupkan Kegelisahan Seniman Ponorogo

PONOROGO | Jktv.co.id – Di tengah rimbunnya sejarah dan budaya Ponorogo, sebuah bangunan lama—bekas SMPN 3 di Jalan HOS Cokroaminoto No. 57—tiba-tiba hidup kembali. Bukan oleh tawa pelajar, tapi oleh warna, suara hati, dan denyut kegelisahan para seniman dalam pameran seni tunggal bertajuk “Suwung Jumengglung”, yang berlangsung sejak 3 Mei 2025 selama 10 hari.

Ini bukan sekadar pameran. Ini adalah seruan diam yang akhirnya bersuara. Sebuah panggung tempat MA. Fatkhurrohman—yang akrab disapa Pak Arif—membuka kembali luka, harapan, dan cinta pada tanah kelahiran melalui sapuan kuasnya. Meski telah melanglang buana ke kota-kota besar seperti Solo, Yogyakarta, dan Surabaya, pameran ini adalah persembahan pertamanya secara penuh di tanah kelahiran—Ponorogo.

“Ini momen spiritual bagi saya. Saya kembali, membawa seluruh isi batin saya, bukan hanya sebagai seniman, tapi sebagai anak kampung yang ingin didengar,” ungkapnya penuh haru.

“Suwung Jumengglung”—yang berarti “hampa yang tenggelam”—adalah metafora kuat dari kondisi ruang seni di Ponorogo yang selama ini minim perhatian. Tapi lewat karya-karyanya, Pak Arif tidak sekadar mengeluh. Ia merajut perlawanan. Ia menciptakan kanvas-kanvas yang bicara tentang sunyi, kritik sosial, dan keinginan untuk tumbuh.

“Pameran setahun sekali tidak cukup. Kami ingin hidup, bukan sekadar muncul lalu hilang,” tegasnya, yang juga sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi ojek online.

Malam Jumat dalam pameran ini menjadi malam magis. Ruang pamer mendadak berubah menjadi altar budaya. Sanggar Kartikapuri membuka malam dengan tembang macapat, menyulut ruh tradisi yang mengalun pelan namun menembus jiwa.

Lalu, hadirlah kolaborasi luar biasa: Ki Purbo Sasongko, dalang kondang Ponorogo; Ki Wenas Sudirman, pimpinan Sanggar Tari Tadika Puri; dan Mbak Ninok, seniman ketoprak. Mereka bersatu dalam pertunjukan wayang orang dan wayang kulit, disatukan dengan tarian dan tetembangan dalam satu panggung kolaboratif.

Mereka mengangkat kisah Arjuno yang dilanda dilema batin, enggan berperang karena harus melawan saudara-saudaranya sendiri. Tapi kemudian Kresna hadir memberi nasihat, mengingatkan bahwa hidup bukan tentang siapa yang dihadapi, tapi apa yang diperjuangkan.

“Kisah ini sangat relevan. Kadang yang kita lawan adalah keadaan yang akrab. Tapi jika demi masa depan seni, kita harus berani,” ujar Wenas yang sebelumnya juga menampilkan mocopatan.

Ia menekankan, “Kegiatan seperti ini harus terus ada. Karena seni itu bukan selingan, tapi napas dari kebudayaan kita.”

Dengan semangat Hari Pendidikan Nasional, “Suwung Jumengglung” hadir bukan hanya sebagai pameran lukisan, tapi oase untuk jiwa-jiwa yang selama ini kehausan akan ruang berekspresi. Di ruang yang dulu sunyi, kini seni bicara lantang.

  • Reporter: Minul Anggraeni
JK TV Copyright