Foto : Saat Suporter Ponorogo Audensi bersama Eakil Krtua DPRD dan Kabid Pemuda Olah Raga Disbudparpora Ponorogo, Kamis (17/92026).
PONOROGO | jktv.co.id – Sejumlah perwakilan pecinta sepak bola dan suporter Kabupaten Ponorogo menyampaikan empat tuntutan terkait masa depan Stadion Batoro Katong dalam audiensi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ponorogo, Kamis (17/9/2026).
Audiensi tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Ponorogo serta perwakilan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, di antaranya Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, Wahid Purwanto dan Sugeng.

Dalam pertemuan itu, para perwakilan suporter menyoroti kondisi Stadion Batoro Katong yang dinilai membutuhkan pembenahan secara menyeluruh. Mereka tidak hanya meminta perbaikan fisik, tetapi juga kepastian arah pembangunan kawasan stadion agar dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
Empat tuntutan yang disampaikan yakni, pertama, mendesak Pemerintah Kabupaten Ponorogo segera melakukan renovasi total Stadion Batoro Katong dengan memastikan penganggarannya mulai APBD Kabupaten Ponorogo Tahun Anggaran 2027.
Kedua, Pemkab Ponorogo diminta menyusun dan menetapkan landscape resmi Kawasan Stadion Batoro Katong sebagai acuan pembangunan dan penataan kawasan secara terpadu, terarah, serta berkelanjutan.

Ketiga, pemerintah didesak menetapkan arah pembangunan stadion dengan skema multiyears, sehingga pembangunan tidak berhenti atau berubah-ubah mengikuti pergantian tahun anggaran.
Keempat, para suporter meminta keterlibatan publik secara aktif dan bermakna dalam penyusunan landscape kawasan stadion, termasuk melalui forum konsultasi publik, diskusi dengan masyarakat, komunitas olahraga, pemuda, serta kelompok terkait lainnya.
Para perwakilan suporter menilai Stadion Batoro Katong bukan sekadar fasilitas olahraga. Stadion tersebut dipandang sebagai ruang publik yang memiliki nilai historis sekaligus menjadi salah satu tempat lahir dan berkembangnya talenta-talenta muda Ponorogo.

Namun, mereka menilai kondisi stadion saat ini menunjukkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih serius dari pemerintah daerah. Karena itu, tuntutan renovasi total dinilai harus diikuti dengan perencanaan yang jelas, termasuk desain kawasan dan tahapan pembangunan.
Salah satu perwakilan audiensi, Naufal, menekankan pentingnya pemerintah memiliki rencana induk yang dapat menjadi pedoman lintas periode kepemimpinan.
“Kami khawatir kalau tidak ada rencana induk, pembangunan tahun depan tidak selaras dengan pembangunan sebelumnya. Harus ada konsep yang jelas dan dipublikasikan agar masyarakat bisa memberikan masukan (urun rembug) sebagai bagian dari proses demokrasi,” ujar Naufal.

Sementara itu, dari pihak Disbudparpora Ponorogo menyambut baik alokasi anggaran Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sekitar Rp2,3 miliar yang dialokasikan untuk pembenahan sarana olahraga.
Wahid Purwanto menyampaikan bahwa pembenahan tidak hanya diarahkan pada aspek fisik. Disbudparpora juga berencana menyusun roadmap atau lanskap tata ruang kawasan olahraga, sebagaimana arahan Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo.
Rencana tersebut menjadi bagian penting karena pembangunan Stadion Batoro Katong membutuhkan arah penataan kawasan yang lebih komprehensif. Dengan adanya roadmap, pembangunan diharapkan tidak dilakukan secara parsial, melainkan berdasarkan konsep yang dapat menjadi acuan dalam pengembangan kawasan olahraga ke depan.

Audiensi tersebut sekaligus memperlihatkan adanya tuntutan publik agar pembenahan Stadion Batoro Katong tidak berhenti pada proyek perbaikan fisik. Masyarakat dan komunitas olahraga menginginkan adanya kepastian perencanaan, kesinambungan anggaran, keterbukaan konsep pembangunan, serta ruang partisipasi publik.
Kini, bola kebijakan berada di tangan Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan DPRD.
Tuntutan renovasi total Stadion Batoro Katong akan membutuhkan keputusan politik anggaran, perencanaan teknis, serta tahapan pembangunan yang terukur agar aspirasi tersebut dapat diterjemahkan menjadi program konkret.
- Reporter : Anang Sastro.












