Foto : H. Agus Zamroni: Indonesia Emas Tidak Cukup dengan Anggaran, Generasi Muda Harus Berintegritas dan Mau Belajar, Senin (27/7/2026).
PONOROGO I jktv.co.id – Di tengah besarnya investasi pemerintah untuk membangun sumber daya manusia melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengusaha alat dan mesin pertanian (alsintan) asal Desa Mlilir, H. Agus Zamroni, mengingatkan bahwa keberhasilan program nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kualitas moral, integritas, dan karakter para pelaksananya.
Pendiri pabrik perakitan alsintan merek Zaaga di bawah PT Mitra Maharta itu menilai Indonesia sedang menghadapi tantangan serius berupa krisis moralitas. Menurutnya, fenomena kaburnya batas antara benar dan salah telah melahirkan budaya permisif terhadap berbagai penyimpangan yang berpotensi menghambat kemajuan bangsa.
“Indonesia saat ini mengalami krisis moralitas. Bahkan yang benar dinilai salah, sedangkan yang salah justru dianggap benar. Akibatnya, kejahatan dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Karena itu perlu revolusi mental agar Indonesia menjadi lebih baik,” ujar H. Agus Zamroni, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari pembentukan karakter. Bonus demografi dan hadirnya generasi muda di berbagai posisi strategis tidak akan menjadi kekuatan apabila tidak diiringi integritas, etika, serta budaya belajar yang kuat.
Agus Zamroni yang akrab di panggil Abah ini, memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) . Ia menegaskan bahwa program tersebut merupakan investasi jangka panjang negara untuk menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing secara global.
“Program MBG merupakan kebijakan yang sangat baik. Negara-negara maju telah membuktikan pentingnya investasi gizi bagi anak-anak. Persoalan kita bukan pada programnya, tetapi pada kualitas pelaksanaannya,” katanya.
Ia menilai kepercayaan pemerintah kepada kalangan muda untuk mengisi posisi strategis di Badan Gizi merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun, menurutnya, semangat dan inovasi anak muda harus disertai kerendahan hati serta kemauan belajar dari mereka yang telah memiliki pengalaman panjang.
“Anak muda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan. Tetapi pengalaman tidak bisa digantikan. Jangan merasa paling benar atau paling pintar. Bangun komunikasi, berdiskusi, dan belajar dari para pengusaha maupun praktisi senior agar setiap kebijakan memiliki landasan yang kuat,” tegasnya.
Abah Zamroni juga menilai anggapan yang di sampaikan Kepala BGN di media Online idnfinancials.com saat konferensi pers pada Rabu 22 Juli 2026 lalu di Jakarta, bahwa makan bergizi adalah tender politiknya Presiden Prabowo, itu merupakan pandangan yang tidak objektif. Menurutnya, penilaian terhadap sebuah program nasional harus didasarkan pada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, bukan pada asumsi politik yang belum tentu memiliki dasar yang kuat.
Di sisi lain, ia mengingatkan masih terdapat celah dalam rantai pasok MBG yang berpotensi menimbulkan inefisiensi. Pengadaan peralatan, bahan baku, hingga komoditas seperti susu dan bahan – bahan yang lain dinilai masih rawan dimanfaatkan oleh oknum perantara yang mengambil keuntungan berlebihan.
“Jika rantai distribusi tidak diawasi secara ketat, anggaran negara akan bocor pada biaya-biaya yang tidak memberikan nilai tambah. Program sebesar ini harus dijaga dari praktik percaloan dan kepentingan yang hanya mengejar keuntungan pribadi,” ujarnya.
Menurut H. Agus Zamroni, kepercayaan publik terhadap MBG tidak dapat dibangun dengan menutup kritik ataupun membatasi akses informasi. Transparansi justru menjadi syarat utama agar masyarakat dapat ikut mengawasi pelaksanaan program sekaligus memberikan masukan untuk perbaikan.
“Pers tidak boleh dibatasi ketika menjalankan fungsi kontrol sosial. Semakin terbuka sebuah program, semakin besar peluang untuk diperbaiki. Kritik yang konstruktif adalah bagian dari proses penyempurnaan kebijakan publik,” katanya.
Ia juga menyoroti masih adanya dapur penyedia makanan yang beroperasi tanpa memenuhi standar yang seharusnya dipenuhi sebelum melayani masyarakat. Kondisi tersebut, menurutnya, harus segera dibenahi agar tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan penerima manfaat.
Ia menegaskan bahwa seluruh dapur MBG seharusnya telah memenuhi persyaratan teknis, antara lain memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sertifikasi penjamah makanan, hasil pemeriksaan kesehatan petugas, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai.
Baginya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan, melainkan dari tata kelola yang bersih, transparan, profesional, dan memenuhi standar keamanan pangan.
“Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya karena program besar atau anggaran besar. Indonesia akan maju apabila generasi mudanya memiliki integritas, rendah hati, mau belajar, dan berani bekerja secara profesional. Karakter adalah fondasi utama kemajuan bangsa,” pungkasnya.
- Reporter : KRA. Anang Sastro.












