Foto : Sekaten Surakarta: Tradisi Maulid Nabi yang Merawat Warisan Budaya Jawa, Rabu (26/8/2026).
SURAKARTA I jktv.co.id – Perayaan Sekaten dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Surakarta berlangsung meriah. Rangkaian Hajad Dalem Pareden Garebeg Mulud Tahun BE 1960 Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat digelar 19–26 Agustus 2026, bertepatan dengan 5–12 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Rangkaian tradisi tersebut diikuti ribuan masyarakat, abdi dalem, sentono dalem, serta sejumlah tokoh. Sinuwun Purboyo turut melepas prosesi arak-arakan dari lingkungan keraton menuju Masjid Agung Surakarta dalam suasana khidmat dan sakral.

Tradisi Sekaten ditandai dengan dibunyikannya gamelan pusaka Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari pada 20–26 Agustus. Selain itu, masyarakat juga mengikuti pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar selepas Magrib hingga Isya di serambi Masjid Agung Surakarta.
Puncak kegiatan berlangsung pada 26 Agustus melalui Hajad Dalem Pareden Garebeg Mulud. Prosesi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, tetapi juga merepresentasikan kesinambungan tradisi dan identitas budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Dalam rangkaian acara, Kangjeng Gusti Pangeran Harya Adipati (KGPHA) Panembahan Dipokusumo, menyampaikan pesan mengenai makna dan nilai filosofis Sekaten serta Garebeg Mulud. Ungkapan “nomo kinarto jopo” turut disampaikan sebagai bagian dari pesan kebudayaan dan kehidupan.
Kemeriahan perayaan juga mendapat dukungan dari H. Abah Aksa, pengusaha asal Tangerang, yang memberikan bantuan kepada para abdi dalem sebagai bentuk kepedulian dan penghargaan atas peran mereka dalam menjaga serta melestarikan tradisi keraton.

Sementara itu, putra Abah Aksa menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat. Ia mengingatkan bahwa manusia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT dengan membawa amal perbuatannya.
“Manusia datang ke alam dunia tidak membawa apa-apa, maka akan datang kepada Allah dengan membawa amal baik,” terangnya, Rabu (26/8/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk senantiasa mencintai Allah SWT sebagai pemilik kehidupan. “Cintailah Allah yang memiliki dunia, maka akan mendapat rida Allah,” ucapnya.
Perayaan Sekaten dan Garebeg Mulud menjadi momentum memperkuat nilai keagamaan sekaligus menjaga keberlangsungan budaya Jawa. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi tersebut tetap memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman dan menjadi salah satu warisan budaya-keagamaan yang terus hidup di Surakarta.
- Reporter : KRA. Anang Sastro.












