Foto : Puluhan Pelajar SMK PGRI 1 Ponorogo Mengalami Kesurupan dan Pingsan Puncak Api Unggun, Jumat (9/10/2026).
PONOROGO | jktv.co.id – Kegiatan Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan dan Pentas Seni SMK PGRI 1 Ponorogo di lapangan Desa Japan, Jumat (9/10/2026), menjadi sorotan setelah puluhan pelajar dilaporkan mengalami kesurupan dan pingsan saat rangkaian acara puncak api unggun dan pentas seni.
Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kronologi kejadian, kesiapsiagaan panitia, serta langkah penanganan terhadap peserta yang mengalami gangguan kondisi fisik. Dari kejadian tersebut, sampai saat ini belum di ketahui secara pasti.
Puncak acara yang dimeriahkan Askala Music itu diwarnai penyalaan kembang api. Berdasarkan keterangan yang dihimpun timsus jktv.co.id, kembang api tersebut terlihat ambruk dan sempat jatuh di salah satu tenda peserta.
Kejadian itu menjadi bagian penting yang perlu diklarifikasi secara detail, terutama mengenai posisi penyalaan kembang api, jaraknya dari tenda, serta langkah pengamanan yang telah disiapkan panitia. Namun, sampai berita ini di naikan, belum ada informasi terverifikasi yang memastikan bahwa insiden kembang api tersebut berkaitan langsung dengan kondisi para pelajar yang kemudian dilaporkan mengalami kesurupan dan pingsan.
Salah satu guru SMK PGRI 1 Ponorogo, Alvian, saat di konfirmasi menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan hal yang biasa terjadi saat renungan malam.
“Kejadian tersebut menurut saya hal yang biasa, sebab biasanya anak-anak banyak yang membawa pegangan spiritual. Selain itu juga biasanya punya penyakit mag,” terangnya.
Sementara itu, salah satu wali murid peserta kemah berinisial G 40 tahun menyampaikan keberatan terhadap respons pihak sekolah saat kejadian berlangsung.
Menurutnya, penanganan terhadap kondisi para pelajar terkesan kurang tanggap, bahkan seolah-olah mengabaikan situasi yang terjadi. Keluhan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran wali murid mengenai sejauh mana pengawasan dan kesiapan penanganan darurat selama kegiatan berlangsung.
“Penanganannya para guru di rasakan terkesan kurang tanggap, Seharusnya segeea ada tindakan yang cepat,” terangnya.
Terlepas dari penyebab kejadian yang belum diketahui secara pasti, insiden ini menjadi pengingat penting bahwa kegiatan sekolah di luar lingkungan pembelajaran rutin memerlukan perencanaan keselamatan yang memadai.
Pengawasan peserta, penggunaan kembang api, kesiapan pertolongan pertama, akses terhadap layanan kesehatan, serta prosedur menghadapi keadaan darurat merupakan aspek yang patut dievaluasi.
Hingga berita ini di naikan, keterangan mengenai kronologi lengkap, penyebab kejadian, kondisi terakhir para pelajar, dan langkah penanganan yang dilakukan belum ada konfirmasi dari pihak sekolah serta panitia kegiatan.
- Reporter : Timsus.












